Rabu, Juli 22, 2026

Ketika Guru Kehilangan Empati: Membaca Ulang Relasi Pendidikan dari Teach You a Lesson

Karawang | Insightjabarnusantara.Com-Mengapa siswa yang cerdas justru kehilangan motivasi belajar? Mengapa ruang kelas yang seharusnya menjadi tempat bertumbuh, justru terasa menekan bagi sebagian peserta didik? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya hadir dalam realitas pendidikan saat ini, tetapi juga tergambar dalam drama Korea Teach You a Lesson, yang secara halus mengkritik rapuhnya relasi antara guru dan siswa.

Dalam salah satu adegan, seorang siswa yang dicap “bermasalah” oleh gurunya ternyata menyimpan tekanan keluarga yang berat dan rasa kesepian yang tidak pernah dipahami. Ia bukan tidak mampu belajar ia hanya tidak memiliki ruang untuk didengar. Adegan ini menjadi cermin bahwa persoalan pendidikan sering kali tidak sesederhana yang terlihat di permukaan.

Dunia pendidikan hari ini tidak lagi hanya dihadapkan pada persoalan kurikulum atau capaian akademik. Sekolah juga bergulat dengan isu yang lebih kompleks: kesehatan mental peserta didik, perubahan karakter generasi, kesenjangan komunikasi, hingga meningkatnya tuntutan sosial terhadap lembaga pendidikan. Di Indonesia, berbagai temuan dan laporan pendidikan juga menunjukkan meningkatnya tekanan akademik serta tantangan kesejahteraan psikologis siswa, yang berdampak pada motivasi dan keterlibatan belajar.

Dalam konteks ini, relasi interpersonal antara guru dan peserta didik menjadi kunci yang sering kali terabaikan. Kesulitan belajar siswa tidak selalu bersumber dari kemampuan akademik yang rendah, melainkan dari tekanan psikologis, lingkungan keluarga, serta minimnya dukungan sosial. Perspektif ini sejalan dengan teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow yang menegaskan bahwa sebelum mencapai aktualisasi diri, individu membutuhkan rasa aman, penghargaan, dan penerimaan.

Di sinilah pentingnya empati dalam pendidikan. Empati bukan sekadar sikap baik, melainkan kompetensi inti yang memungkinkan guru memahami kondisi emosional siswa. Setiap peserta didik hadir dengan latar belakang yang berbeda, membawa cerita, tekanan, dan harapan masing-masing. Ketika empati absen, proses pembelajaran berpotensi berubah menjadi aktivitas mekanis yang kehilangan makna.

Baca Juga  Tasyakuran Milad Karang Taruna Guruh Raja Gumilang, Momentum Perkuat Kepedulian Sosial dan Persatuan Pemuda Desa Parungmulya

Pandangan ini diperkuat oleh teori pendidikan humanistik Carl Rogers, yang menekankan bahwa pembelajaran efektif hanya dapat terjadi dalam hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Guru tidak cukup berperan sebagai penyampai materi, tetapi harus mampu menciptakan suasana yang menerima, menghargai, dan bebas dari label negatif. Lingkungan belajar yang empatik akan mendorong motivasi intrinsik serta membantu siswa berkembang secara optimal.

Relevansi pendekatan ini semakin kuat di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental peserta didik. Tekanan akademik, perundungan, tuntutan sosial, hingga persoalan keluarga kerap memengaruhi kondisi psikologis siswa. Dalam situasi seperti ini, guru dituntut tidak hanya kompeten secara pedagogik, tetapi juga memiliki kecerdasan sosial dan emosional yang memadai. Selain relasi interpersonal, isu penting lainnya adalah pendidikan karakter. Selama ini, keberhasilan pendidikan kerap diukur dari nilai, peringkat, dan prestasi akademik. Padahal, tujuan pendidikan nasional menekankan pembentukan manusia yang beriman, berakhlak mulia, mandiri, dan bertanggung jawab.

Thomas Lickona menegaskan bahwa pendidikan harus membentuk good character melalui tiga aspek: moral knowing, moral feeling, dan moral action. Artinya, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan apa yang benar, tetapi juga menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan untuk melakukan kebaikan. Dalam praktiknya, hal ini sangat bergantung pada keteladanan guru. Peserta didik lebih mudah meniru apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar.

Di sisi lain, tantangan profesionalisme guru di era modern juga semakin kompleks. Perubahan karakter generasi menuntut guru untuk adaptif terhadap teknologi, mampu mengelola kelas yang beragam, serta membangun komunikasi yang efektif. Hal ini sejalan dengan empat kompetensi guru—pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional yang harus berjalan secara terpadu.

Baca Juga  Satpas Polres Subang Tegaskan Penerbitan SIM Dilaksanakan Sesuai Dengan Ketentuan Perundang-Undangan Yang Berlaku

Melalui berbagai isu yang diangkat, Teach You a Lesson mengingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia—membangun karakter, merawat kesehatan mental, serta menciptakan hubungan yang bermakna antara guru dan peserta didik.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi capaian akademik, tetapi juga oleh sejauh mana sekolah mampu menjadi ruang yang aman, inklusif, dan penuh empati. Guru, dalam hal ini, bukan hanya pengajar, tetapi pembimbing dan inspirator yang berperan penting dalam membentuk manusia seutuhnya.

Pertanyaannya, di tengah tuntutan capaian dan tekanan sistem pendidikan hari ini, apakah sekolah masih menjadi ruang yang memanusiakan manusia—atau justru tanpa sadar mulai kehilangan sisi kemanusiaannya?

Oleh : Chika Gianistika, M.Pd.

Dosen Institut Agama Islam Rakeyan Santang Karawang

Artikel Lainnya

Berita Teratas

spot_img

Peristiwa

Populer

Muda, Berani, Berdampak: Chiciliawati dan Gerakan Literasi yang Menggema di Karawang

Karawang | Insightjabarnusantara.Com– Saat banyak remaja larut dalam layar...

Dukung Ketahanan Pangan Nasional, Personil Polsek Rengasdengklok Monitoring Pertumbuhan Lahan Jagung

Karawang| Insightjabarnusantara.Com-  Jajaran Personil Kepolisian sektor Rengasdengklok Polres Karawang...

Kinerja Polsek Jalan Cagak Di Apresiasi Masyarakat, Camat Kasomalang “Kapolsek Jalan Cagak Rajin Blusukan Gali Potensi.”

Subang | Insightjabarnusantara.Com- Kinerja Jajaran Polsek Jalan Cagak Polres...

DLH Karawang Selidiki Penyebab Kematian Massal Ikan di Aliran Irigasi Karawang Barat

KARAWANG| Insightjabarnusantara.com– Warga yang berdomisili di wilayah Kecamatan Karawang...

Advokasi Asprumnas Jabar Mulai Berbuah Hasil, Dorong Akses Rumah Subsidi Kian Terbuka

Bandung| Insightjabarnusantara.Com– Sejumlah gagasan dan masukan yang selama ini...