KARAWANG | Insightjabarnusantara.Com– Kitab klasik pendidikan Islam Ta’limul Muta’allim Thariqah at-Ta’allum karya ulama besar Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji hingga kini masih menjadi rujukan utama di berbagai pesantren dalam membentuk karakter dan etika para pencari ilmu.
Kitab yang telah dipelajari selama berabad-abad tersebut tidak hanya mengajarkan metode belajar yang efektif, tetapi juga memberikan panduan lengkap mengenai adab, kesungguhan, hingga pentingnya menjaga kesehatan jasmani sebagai penunjang keberhasilan dalam menuntut ilmu.
Salah satu pembahasan yang menarik perhatian terdapat pada penjelasan mengenai bahaya menumpuknya dahak (balgham) dalam tubuh. Menurut Syaikh Az-Zarnuji, kondisi tersebut dapat menyebabkan tubuh menjadi berat, menimbulkan rasa malas, menurunkan semangat belajar, bahkan melemahkan daya ingat dan hafalan seseorang.
Dalam pandangan pendidikan Islam klasik, kesehatan fisik memiliki hubungan erat dengan ketajaman berpikir. Karena itu, para pelajar dianjurkan untuk menjaga pola makan dan minum agar tidak berlebihan.
Syaikh Az-Zarnuji menjelaskan bahwa terlalu banyak makan dan minum dapat menyebabkan produksi lendir atau dahak meningkat. Kondisi tersebut diyakini dapat menghambat kecerdasan serta menurunkan produktivitas seseorang dalam belajar.
Selain itu, makanan yang terlalu manis, berminyak, dan berlemak tinggi juga disebut berpotensi memperbanyak dahak dalam tubuh. Oleh sebab itu, para penuntut ilmu dianjurkan menerapkan pola hidup sederhana dan tidak berlebihan dalam memenuhi kebutuhan jasmani.
Enam Syarat Meraih Ilmu
Lebih jauh, Kitab Ta’limul Muta’allim juga mengajarkan bahwa keberhasilan memperoleh ilmu tidak bisa diraih secara instan. Seorang santri harus melalui enam perkara sebagaimana syair yang sangat populer di kalangan pesantren:
“Alaa laa tanaalul ‘ilma illaa bisittatin, sa-unbiika ‘an majmuu’ihaa bibayaanin.”
Artinya: “Ketahuilah, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara, yang akan aku jelaskan seluruhnya.”
Enam syarat tersebut meliputi:
1. Dzaka’ (Kecerdasan)
Ilmu membutuhkan kemampuan berpikir dan kemauan untuk memahami pelajaran secara mendalam.
2. Hirsh (Kesungguhan dan Semangat)
Kesuksesan belajar ditentukan oleh tekad kuat, kedisiplinan, dan semangat yang tidak mudah padam.
3. Ishthibar (Kesabaran)
Proses menuntut ilmu membutuhkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan, ujian, dan perjalanan panjang pendidikan.
4. Bulghah (Bekal atau Penunjang)
Santri memerlukan bekal yang cukup, baik berupa kebutuhan hidup, kesehatan, maupun sarana belajar yang memadai.
5. Irsyadu Ustadz (Bimbingan Guru)
Ilmu tidak cukup dipelajari sendiri. Keberkahan dan pemahaman yang benar diperoleh melalui bimbingan guru yang kompeten.
6. Thuulu Zaman (Waktu yang Panjang)
Ilmu tidak dapat diraih dalam waktu singkat. Diperlukan proses, ketekunan, dan konsistensi yang berkelanjutan.
Sebagai solusi untuk menjaga kesehatan dan kejernihan berpikir, Syaikh Az-Zarnuji menganjurkan pola makan secukupnya, yaitu makan sebelum terlalu lapar dan berhenti sebelum kenyang. Puasa juga disebut sebagai salah satu cara melatih pengendalian diri sekaligus menjaga kebugaran fisik dan mental.
Ajaran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, kedisiplinan, serta keseimbangan antara kebutuhan jasmani dan rohani.
Di tengah gaya hidup modern yang cenderung konsumtif, pesan dari Kitab Ta’limul Muta’allim tetap relevan untuk diterapkan. Bagi para santriawan dan santriwati, menjaga kesehatan, menghormati guru, bersabar dalam proses, serta bersungguh-sungguh dalam belajar merupakan fondasi utama untuk meraih ilmu yang bermanfaat dan penuh keberkahan.
(Rifai)

