KARAWANG| Insightjabarnusantara.Com,— Empat tahun berlalu, tragedi Kanjuruhan belum semestinya menjadi sekadar catatan sejarah. Pesan itu coba kembali digaungkan suporter pelajar SMAN 1 Tempuran yang tergabung dalam LACURVA SMANTEKA melalui doa bersama untuk mengenang 135 korban tragedi Kanjuruhan.
Kegiatan tersebut digelar secara sederhana namun khidmat di halaman SMAN 1 Tempuran, Minggu, 4 Oktober 2026. Mengenakan pakaian serba hitam, para anggota LACURVA SMANTEKA duduk melingkar, menyalakan lilin, serta membentangkan spanduk bertuliskan “Rest In Peace Kanjuruhan.”
Kegiatan diawali dengan pembacaan kronologi singkat tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Setelah itu, dilanjutkan dengan penyampaian pesan solidaritas dari perwakilan LACURVA SMANTEKA.
Riviansyah, alumni LACURVA SMANTEKA yang turut hadir mendampingi kegiatan tersebut, mengatakan aksi tersebut menjadi bentuk solidaritas sekaligus pengingat bahwa kecintaan terhadap sepak bola tidak boleh menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami mungkin suporter sekolah, bukan suporter liga. Tapi kami paham rasanya mencintai sepak bola. Kami ke sini hari ini bukan karena Arema atau Persebaya. Kami ke sini karena mereka adalah kami. Mereka adalah suporter yang berangkat nonton dan tidak pernah pulang. Sebagai suporter, kami menolak lupa,” ujar Riviansyah.
Tepat pukul 20.15 WIB, seluruh peserta kemudian mengheningkan cipta selama 135 detik. Angka tersebut menjadi simbol penghormatan kepada 135 korban yang kehilangan nyawa dalam tragedi tersebut.
Suasana yang sebelumnya dipenuhi aktivitas para peserta berubah hening. Sejumlah anggota terlihat larut dalam suasana duka sebelum doa bersama dipanjatkan untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Riviansyah menegaskan, pesan yang ingin dibawa LACURVA SMANTEKA bukan sekadar mengenang tragedi, tetapi juga membangun kesadaran di kalangan pelajar agar menjadi suporter yang lebih dewasa dan menjunjung tinggi kemanusiaan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa LACURVA SMANTEKA bukan hanya soal berisik di tribun saat SMANTEKA bertanding. Kami juga punya hati. Kami suporter yang menolak anarkis. Kami berpegang teguh pada prinsip, ‘Kami Suporter Bukan Gangster’,” tegasnya.
Doa bersama kemudian ditutup dengan menyalakan lampu flash ponsel secara bersamaan. Para peserta juga menyanyikan chant “Sampai Jumpa Lagi” secara perlahan sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.
Melalui kegiatan tersebut, LACURVA SMANTEKA ingin menyampaikan pesan kepada para pelajar dan suporter, khususnya di Karawang, bahwa loyalitas terhadap tim tidak harus diwujudkan melalui tindakan anarkis.
Sebab, di tengah rivalitas dan kecintaan terhadap sepak bola, ada satu hal yang tidak boleh dikesampingkan: kemanusiaan.
(Red/Jar)

